Gembira Bermazhab

Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag*

Umat Islam sepakat Muharram merupakan awal bulan dalam kalender Islam. Inilah penanda tahu baru yang patut dijadikan momentum umat untuk mengukir sejarah peradaban. Spirit hijrah merupakan esensi untuk merancang kehidupan umat Islam yang lebih baik.

Anehnya, bulan ini juga menjadi momentum pengentalan primordalisme mazhab dalam Islam, yang terus berulang setiap tahun. Pada Muharram ini, terdapat peringatan hari kesepuluh (‘Asyura) yang seolah memecah umat: apakah termasuk minna (golongan kita) atau minhum (golongan mereka).

Sebagian umat kebakaran jenggot dengan peringatan itu. Asyura dianggap ritus khas Syiah yang menyimpang. Selain menyakiti diri sendiri, mereka suka mengolok atau mencaci maki isteri Nabi dan para shahabat yang sangat dicintai oleh umat. Jika dugaan caci maki itu benar, maka peringatan Asyura patut disayangkan. Suatu praktik bermazhab yang aneh dan tidak masuk akal.

Sepanjang sejarah, mazhab Sunni dan Syiah terus terlibat perseteruan tanpa akhir. Doktrin taqiyah (merahasiakan keyakinan dari pihak lawan yang dapat merugikan jiwa dan agamanya) yang dianut salah satu mazhab mempersulit terjadinya dialog yang jujur dan konstruktif. Yang ada hanya sikap saling curiga dan tidak percaya.

Secara bahasa, kata mazhab merupakan isim masdar mim atau isim makan dari dzahaba. Artinya pergi atau tempat (yang dituju) untuk bepergian atau jalan yang dilalui. Menurut istilah, mazhab merupakan aliran pemikiran (qaul) atau metode (manhaj) pemikiran (school of thought) yang diikuti oleh umat dalam bidang tertentu, misalnya dalam fiqh, kalam atau bidang-bidang lainnya.

Mazhab merupakan lintasan (trajectory) yang dilalui seseorang. Ia boleh mengikutinya dari awal hingga akhir, atau berganti lintasan di tengah jalan karena situasi dan kondisi tertentu. Mazhab dapat menjadi wasilah (sarana) yang memudahkan untuk sampai tujuan (ghayah). Tetapi mazhab bukanlah tujuan atau maksud (maqashid) itu sendiri.

Mazhab yang mulanya lahir karena alasan politik, belakangan menjadi sangat serius di tangan umat akhir zaman. Mazhab dianggap urusan agama: sesat dan tidak sesat, kafir dan mukmin, dan bahkan masalah surga dan neraka. Padahal, sebagai jalan untuk memahami dan mempraktikkan agama, beragama seharusnya dilakukan dengan gembira dan rileks.

Kata Ulil Abshar Abdalla, pada masa klasik, kata mazhab pernah digunakan untuk menyebut pengertian yang tidak serius: pergi jauh untuk buang hajat. Hal itu terekam dalam hadits riwayat Abu Dawud: “inna al-nabiyya idza dzahaba al-mazhaba ab’ada” (sesungguhnya Nabi jika hendak buang hajat maka akan dicari tempat yang jauh) (https://alif.id/read/ulil-abshar-abdalla/makna-kata-mazhab).

Sejatinya, perbedaan merupakan hal yang lazim dalam kehidupan. Keinginan untuk menyeragamkan umat dalam satu mazhab, rasanya mustahil. Keinginan itu bertentangan dengan qudrat dan iradat Allah Swt yang telah menciptakan manusia berbeda agama, bangsa dan suku. Sudah sejak zaman Rasulullah, para shahabat tidak jarang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap nash al-Qur’an misalnya.

Karena itu, jangan berpikir dan apalagi berusaha untuk itu. Jangan pula menyatakan hanya satu mazhab yang benar dan yang lain salah atau sesat. Ajakan untuk tidak bermazhab juga tidak menyelesaikan masalah karena tidak bermazhab juga sejatinya telah menjadi satu mazhab tersendiri. Sepanjang tidak bertentangan dengan pokok agama (ushuluddin), kita mesti membiarkan seluruh mazhab tumbuh dan berkembang secara bebas, sambil melakukan pendekatan agar semua mazhab dapat bergandengan tangan, meski berbeda keyakinan (Shihab, 2007: 259).

Bermazhab mestinya penuh berkah karena umat disediakan menu berbeda sebagai jalan menuju ridha Allah Swt. Dengan catatan, mazhab itu dibangun berdasarkan ijtihad yang serius dan tulus untuk memahami al-Qur’an dan al-Hadits. Mazhab yang demikian, rasanya mustahil mengajarkan pengikutnya untuk mencaci maki, apalagi terhadap orang-orang suci seperti isteri nabi dan para shahabatnya. Masih cukup waktu untuk membuktikan bahwa bermazhab itu berkah bukan musibah.

*- Guru Besar Sosiologi Hukum pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UIN Walisongo dan Pengurus MUI Jawa Tengah

Posted in Kolom Dosen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *