Standar Ulama, Ulama Standar

Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M.Ag.*

Ulama dalam bahasa lokal biasa disebut kiai, ajengan, tuan guru, tengku dan sebagainya. Kata ustaz juga sering disebut, entah dimaksud untuk mengganti kata kiai yang berbau nusantara, untuk menterjemahkan kata guru, demi kesantunan atau yang lain. Masyarakat muslim juga mengenal kata dai atau muballig. Dua kata ini lazim disematkan untuk menggantikan kata pendakwah, yaitu orang yang melakukan dakwah di mimbar-mimbar pengajian.

Seorang ulama pastilah seorang ustaz (dalam pengertian guru) dan seorang dai (pendakwah). Tapi seorang ustaz atau dai belum tentu ulama. Memang tidak mudah membedakan antara ulama, ustaz dan da’i atau muballig. Barangkali, konsensus masyarakatlah yang paling menentukan kenapa seseorang disebut kiai atau ustaz. Padahal, konsensus belum benar dan memenuhi makna aslinya.

Kata ulama eksplisit disebut dalam QS, al-Fathir: 28 (innama yakhsya Allah min ‘ibadihi al-ulama) dan QS, al-Syuara: 197 (awalam yakun lahum ayatan an ya’lamahu ulama bani israil). Dalam al-Qur’an, Kata alim (tunggal) atau ulama dan derivasinya disebut sebanyak 163 kali.

Dalam salah satu hadits, Rasul bersabda: “al-‘aalim amiin Allah subhanahu fi al-ardzi “ dan hadits “al-ulama waratsat al-anbiya”. Masih banyak hadits yang menyebut istilah ini, baik berupa sanjungan maupun peringatan kepada ulama. Sanjungan dan peringatan ini menunjukkan bahwa ulama bukanlah hamba biasa. Ada kekhususan dalam pengetahuan, kedekatan kepada Tuhan, akhlak dan lain sebagainya. Ada juga cela bagi ulama yang tidak melaksanakan titah keulamaannya.

Secara lughawi, ulama adalah kata jamak dari âlim (tunggal) artinya orang yang tahu/ ahli atau orang yang sangat tahu/ sangat ahli (alîm). Akar katanya al-ilm (ilmu), menurut Raghib al-Ashfahani, pengetahuan tentang hakekat sesuatu. Pengetahuan Tuhan akan makhluknya diungkapkan dengan kata ‘alima. Pengetahuan yang diperoleh lewat penalaran dan perenungan digunakan kata ‘arafa (al-makrifat).

ulama adalah seseorang yang ahli di bidangnya. Seorang musisi adalah alim di bidangnya. Pembuat martabak, tukang bangunan, ahli perminyakan juga bisa disebut alim. Begitu pula dengan orang yang ahli di bidang agama, ia layak disebut ulama. Pendek kata, semua orang yang berilmu adalah alim. Begitulah pemahaman secara Bahasa.

Pada suatu masa dalam sejarah Islam, yang mencapai puncaknya pada Dinasti Abbasiyyah, seorang ulama adalah sosok yang multi keahlian. Ia pasti alim di bidang ilmu agama, juga ahli di bidang ilmu pengetahuan lainnya. Ibn Sina misalnya, adalah ulama-dokter. Ibn Khaldun merupakan ulama-sejarawan. Ulama-matematikawan seperti al-Jabbar, al-Khawarizmi dan sebagainya.

Belakangan ulama mengalami penyempitan makna, yakni hanya orang yang menguasai ilmu agama saja. Penyempitan makna ini terjadi di saat ilmu pengetahuan umum berkembang sedemikian pesat. Spesialisasi dan sub-sub spesialis ilmu mulai dikenalkan, tidak hanya merambah ilmu pengetahuan umum tapi juga ilmu pengetahuan agama.

Makin sedikit orang Islam yang multi keahlian, lebih-lebih yang menguasai kombinasi ilmu agama-ilmu umum. Bahkan dalam satu rumpun ilmu agama pun, makin jarang umat Islam yang menguasai seluruh rumpun Islamic studies. Mungkin ia alim di bidang ilmu tafsir, tapi tidak begitu ahli di bidang ilmu hadits, misalnya.

Ulama dalam pandangan al-Ghazali (jilid 1, h. 39) harus memenuhi lima standar: ahli ibadah (‘abidan), hidup zuhud/ bersahaja (zahidan), ahli di bidang ilmu-ilmu akhirat (‘aliman bi ‘ulum al-akhirat), tahu mendalam dalam mewujudkan kemaslahatan dunia (faqihan fi mashalih al-dunya), dengan pengetahuannya itu ia dedikasikan untuk mencari ridha Allah Swt (muridan bi fiqhihi wajha Allah).

Jika mau disingkat—mengingat standar ulama menurut al-Ghazali terlalu berat, standar ulama mestilah ahli ibadah, ahli ilmu agama dan berakhlak karimah. Jika mau dilakukan standarisasi, kriteria ini mesti dimasukkan penilaian. Masing-masing elemen harus terukur (measurable) dengan cermat.

Dugaannya, dipastikan tidak banyak orang yang masuk dalam standar ulama. Menemukan pribadi yang berkumpul tiga kualitas sekaligus merupakan barang langka. Mungkin ibadah dan akhlaknya baik, tetapi ilmu agamanya kurang mendalam. Kedalaman ilmu agama ini yang sering menjadi perdebatan. Jangankan yang tidak pernah mondok, yang puluhan tahun ngaji dlasar di pesantren atau kuliah di perguruan tinggi agama Islam di Arab Saudi atau Mesir, belum tentu pantas disebut ulama.

Karena beratnya kriteria ulama, banyak orang alim yang menghindar atau tidak mau disebut ulama, kiai atau bahkan ustaz. Penyebabnya, bukan saja karena merasa tidak pantas, belum atau tidak memenuhi kriteria ulama, tapi juga karena beratnya tugas dan tanggung jawab ulama. Tugas membimbing umat tidaklah tugas kecil dalam bidang aqidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Ulama bukan hanya mengajar, tapi juga memberi teladan. 24 jam non-stop. Semuanya dilaksanakan tanpa tanpa pamrih.

Tanggung jawab ulama juga sangat berat. Lebih-lebih tanggung jawab kepada Allah Swt. Jika dihadapan umat, ulama mungkin bisa sedikit ngeles. Tapi di pengadilan akhirat, semua keburukan terbongkar dan tercatat dengan baik. Yang semasa hidupnya dielu-elukan, boleh jadi, di sana kelak, amal ibadahnya habis untuk membayar hutang kepada umat. Ia bangkrut, gara-gara ceramahnya menyakiti hati umat yang lain.

Ulama adalah imam dengan tugas dan tanggung jawab yang berat. Sangat masuk akal bila kita lebih memilih menjadi makmum. Tugasnya ringan dan tanggung jawabnya kecil. Sebagai jamaah, kita serba pantas berbuat salah. Namanya juga makmum: jika kurang dilengkapi imam.

Meskipun begitu, seorang makmum tidak boleh sering-sering berbuat salah. Sebagai jamaah yang berilmu, kita wajib melakukan tugas-tugas ulama, tetapi jangan pernah minta disebut ulama. Siapa tahu, imamnya uzur atau batal, makmum dapat mengganti posisi imam sehingga ibadah tetap bisa berjalan. Makin banyak ulama sebenarnya makin baik bagi umat Islam. Makin banyak imam yang tersedia.

Meskipun ulama, tentu kemampuan, keahlian dan levelnya berbeda-beda. Itu fakta yang manusiawi. Tapi sepanjang masih dalam standar: ahli ibadah, ahli ilmu agama dan berakhlakul karimah, ia layak disebut ulama. Barangkali, yang sering kita temukan adalah ulama standar. Sebenarnya yang bersangkutan belum pas disebut ulama karena serba standar, baik ibadah, akhlak dan ilmunya. Namun karena kepentingan tertentu, glorifikasi media dan jamaah kepadanya membuatnya disebut ulama.

*Guru Besar FISIP UIN Walisongo dalam bidang Sosiologi Hukum

Posted in Kolom Dosen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *