Home / Kolom Dekan / SESAT BUDAYA Oleh: Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

SESAT BUDAYA Oleh: Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

Krisis Timur Tengah yang hingga saat ini belum ada jalan keluarnya sungguh memprihatinkan kita semua. Banyak ulama terbaik yang ikut terbunuh termasuk Dr. Said Ramadhan al-Buthi, yang terbunuh saat mengisi pengajian di sebuah Masjid di Syria. Kini semua unsur masyarakat Timur Tengah menyesal karena ternyata permusuhan itu menghancurkan situs-situs berharga umat Islam yang berusia ratusan tahun. Nasi sudah menjadi bubur. Kebencian yang dipelihara melahirkan kehancuran yang memilukan. Kebencian itu bermula dari para pemuda yang melihat ketimpangan di berbagai bidang di negaranya.

Generasi muda Timur Tengah banyak mengalami rasa frustasi akibat dari adanya gap antara ajaran agamanya dengan realitas sosialnya. Agama mengajarkan persahabatan, tapi dunia sekitarnya mengajarkan kebencian/permusuhan. Agama mengajarkan permusyawaratan, tapi dunia sekitarnya mengajarkan monopoli dan otoritarian. Agama mengajarkan hidup tolong-menolong, tapi dunia sekitarnya mengajarkan kapitalisme. Agama mengajarkan kesederhanaan, tapi dunia sekitarnya mengajarkan kemewahan. Agama mengajarkan belajar dan bekerja agar berhasil, sementara dunia sekitarnya mempertontonkan segolongan orang (raja dan keluarganya) yang tidak belajar namun berfoya-foya. Maka, generasi muda menengok dunia luar Timur Tengah melalui teknologi media internet. Mereka melihat bahwa ada yang salah dengan sistem sosial di Timur Tengah itu, kemudian terjadilah protes nasional. Protes itu berubah menjadi ledakan kebencian yang berujung pada peperangan yang amat kacau itu. Semua itu dipicu oleh pemuda. Tunisia, Mesir, dan Syria adalah contoh yang nyata dalam hal ini. ISIS sesunguhnya hanyalah penumpang gelap dari gejolak sosial yang dipicu oleh pemuda yang kemudian melahirkan Arab Spring itu. Mengapa para pemuda di Timur Tengah itu bisa memicu konflik yang berujung malapetaka? Karena mereka menghadapi dua krisis pada dirinya, yakni krisis otak (budaya) dan krisis perut (ekonomi). Bila disederhanakan, pemicu kebencian di Timur Tengah sesungguhnya hanya dua hal itu. Tulisan ini mendiskusikan krisis budaya saja. Krisis ekonomi dibahas dalam tulisan lain.

Mendefinisikan kebudayaan merupakan tugas yang tidak pernah berhenti. Namun definisi yang umum dikenal adalah bahwa kebudayaan merupakan hasil cipta karya dan karsa manusia. Unsur terpenting dalam budaya adalah akal dan rasa. Sesuatu bisa dianggap berbudaya bila ia bisa diterima akal dan bisa dirasakan. Garang asem dan batik, misalnya, ia adalah produk budaya. Buktinya, dua hal itu dibuat oleh akal dan enak dirasakan. Pernahkan kita bertanya bagaimana dan berapa lama nenek moyang kita berpikir untuk menemukan bumbu dan cara memasak garang asem? Pernahkah kita berterima kasih pada mereka?

Setiap ke luar negeri, saya merasakan seperti ikan yang keluar dari air. Ikan baru merasakan nikmatnya tinggal di air bila ia dikeluarkan dari air. Itulah yang saya alami. Saya baru merasakan nikmatnya menjadi orang Indonesia setelah saya tidak menemukan rendang, nasi pecel, dan bebek goreng. Di samping itu, perasaan saya untuk semakin mencintai negeri ini muncul karena cuaca di negara lain tidak seperti negeri ini sepanjang tahun. Di negeri zamrud khatulistiwa ini satu baju bisa dipakai sepanjang tahun. Tapi di Eropa, kita harus memiliki baju berbeda untuk musim dingin dan musim panas. Saat musim panas, kita kepanasan. Saat musim dingin kita menggigil. Saat musim dingin, pakaian yang tepat adalah tipis tapi rangkap banyak (seperti bawang), bukannya tebal tapi satu helai.

Mengapa karya-karya budaya lebih banyak dihasilkan oleh negeri ini dan negeri daerah tropis lainnya daripada negeri sub tropis? Karena alam sangat bersahabat dan membuat penduduknya hidup nyaman sepanjang tahun. Bila alam kita tidak bersahabat pastilah kita tidak sempat memikirkan kebudayaan. Kita akan sibuk mensiasati alam atau menghindar dari alam. Itulah sesungguhnya yang terjadi pada bangsa-bangsa Eropa da bangsa sub tropis termasuk bangsa Arab. Mana mungkin bangsa Arab mampu menghasilkan batik dan garang asem? Terbatasnya alam yang mereka miliki dan kurang bersahabatnya iklim yang mereka hadapi membuat mereka akhirnya memilih baju hanya dua warna yaitu putih dan hitam. Anehnya, cara berpikir nirbudaya ini dianggap Islami oleh sebagian kawan muslim kita.

Manusia sudah semestinya menjadi makhluk berbudaya. Mengapa? Dia memiliki akal. Akal itulah sumber kebudayaan. Berkat akal, manusia bisa menciptakan karya-karya kebudayaan seperti kuliner, pakaian, seni, bahkan pemerintahan dan negara, Namun, akal itu ternyata ibarat tubuh. Ia membutuhkan makanan dan gizi. Bila akal mengonsumsi makanan yang tidak bergizi dia akan berkembang menjadi akal yang sakit. Akal yang sakit menghasilkan cipta, karya, dan karsa yang sakit pula. Akal yang sakit menghasilkan kebudayaan yang sakit.

Indonesia kita sesungguhnya merupakan karya kebudayaan. Indonesia merupakan hasil percikan permenungan yang luhur. Ia lahir dari akal-akal yang sehat. Ia sesungguhnya lahir dari hasil perasan kebijaksanaan hidup masyarakat yang muncul selama ribuan tahun. Pancasila, Pembukaan UUD 1945, dan Batang Tubuhnya adalah bukti percikan permenungan luhur itu. Keindonesiaan kita merupakan sebuah hasil ijtihad kebudayaan.

Namun, ijtihad kebudayaan yang berupa Indonesia itu memang belum selesai bahkan masih jauh dari ideal. Diantara yang belum ideal itu adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai budaya yang luhur itu dalam realitas di bumi Indonesia sepanjang waktu hingga akhir masa. Inilah tugas pemimpin di negeri cuilan surga ini baik pemimpin formal maupun non formal (tokoh masyarakat dan tokoh agama).

Bila Indonesia adalah sebuah ijtihad kebudayaan, bukankah kita boleh berijtihad yang lain seperti gerakan pendukung khilafah dan gerakan sejenisnya? Jawabannya gampang. Syria dan Iraq telah membuktikan bahwa tidak mudah membuat negara baru. Dua negara itu kini luluh lantak. Pembentukan negara baru yang hanya didorong oleh sekedar motif ekonomi jangka pendek dan jauh dari keinginan yang luhur akan sulit terwujud. Bila ada upaya untuk itu pasti menghasilkan kekacauan belaka. Pengalaman NKRI yang jelas-jelas didorong oleh keinginginan yang luhur –keinginan yang kuat untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, bersatu, berdaulat, adil dan makmur– saja masih sulit mewujudkannya dalam dunia nyata sebagaimana yang dimpikan, apalagi motif keluhurannya palsu. Maka kembali pada pertanyaan di atas, bolehkah kita berijtihad ulang merombak NKRI? Kaidah fiqhiyyah menjawabnya: Izaa ta’aaradhaa al-mafsadataani ruu’iya biakhaffihimaa. Jawabannya: jelas tidak boleh. Apalagi ijtihad itu hanya didorong oleh keinginan luhur yang palsu.

Motif-motif palsu itu bila masuk otak para pemuda akan menghasilkan cara berpikir, berkarya, dan berkarsa yang sakit. Munculnya kasus-kasus mutakhir seperti video pemicu kemarahan umat dimana seorang yang pakai sarung, kopyah, baju koko, ternyata memberikan pengajian yang isinya ajaran Kristen, terompet sampul al-Qur’an, kerudung bergambar porno, sandal al-Qur’an, cetakan kue al-Qur’an, bahkan celana dalam al-Qur’an.  Munculnya kasus-kasus ini secara serentak pada akhir-akhir ini merupakan bukti bahwa generasi kita memang sedang sakit akalnya sebagai akibat dari asupan makanan akal yang bergizi rendah bahkan tidak bergizi.

Bukti lain bahwa akal generasi Indonesia kini sedang terganggu adalah rendahnya kualitas karya-karya seni dan budaya kontemporer. Lihatlah kualitas sinetron dan tayangan TV lainnya saat ini. Betapa rendahnya kreativitas kita. Bandingkan film serial anak-anak antara Upin Ipin dengan Sopo Jarwo. Kualitas ceritanya sangat jauh. Dalam Upin Ipin, semua tokoh mengajarkan perilaku hidup yang luhur melalui contoh-contoh nyata. Untuk mempraktikkan perilaku hidup mulia tidak harus menjadi ustadz. Itu dalam Upin Ipin.

Sebaliknya, dalam Sopo Jarwo, perilaku hidup mulia hanya dipraktikkan oleh Ustadz. Yang lain ngaco semua. Anehnya, alur cerita hanya monoton seputar perilaku konyol si Jarwo. Ini baru kasus film anak-anak. Tayangan lain di stasiun TV nasional kita, juga amat tidak mencerahkan. Tayangan-tayangan itu bukanlah makanan bergizi bagi akal generasi muda kita. Tanpa asupan gizi bagi akalnya, generasi muda Indonesia hanya akan menghasilkan karya yang ecek-ecek. Bila ini terjadi, mana mungkin bisa bersaing di luar negeri, ASEAN, apalagi global?

Akal yang kurang gizi ini sangat mudah dimasuki cara berpikir sesat baik yang beraliran kiri (komunis), maupun yang kanan (bersumber dari agama). Bila ini terus dibiarkan, generasi sesat pikir ini akan mengalami sesat budaya. Dia akan menghasilkan karya-karya yang merugikan bagi kehidupan masyarakat. NII, ISIS, dan Gafatar merupakan produk nalar yang demikian ini[]

 

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Muhyar Fanani adalah pengajar filsafat kesatuan ilmu pengetahuan dan hukum Islam di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang dan Program Pascasarjana UIN yang sama. Ia juga tercatat sebagai sekretaris MUI Propinsi Jawa Tengah. Pria kelahiran Ngawi, 14 Maret 1973 ini pernah menjabat sebagai Direktur Fakultas Ushuludin Program Khusus IAIN Walisongo (2005-2007), Wakil Direktur Pembinaan Keagamaan SMU Nurul Islami Semarang (2003-2005), Kepala Unit Penjaminan Mutu IAIN Walisongo (2010-2011), Kepala Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Walisongo (2011-2014) dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin (2015). Dekan Fisip UIN Walisongo ini pernah dinobatkan sebagai salah satu Penulis Disertasi Terbaik versi DEPAG RI pada tahun 2006. Penghargaan itu menjadikannya semakin bersemangat dalam menulis. Hari-harinya dihabiskan untuk menyusun kata dan mengukir makna. Gairahnya untuk terus menulis tidak pernah padam. Ia yakin bahwa tulisannya akan menjadi wakaf yang abadi. Pada tahun 2010, ia mendapat penghargaan sebagai peneliti terbaik IAIN Walisongo. Sementara pada tahun 2012, Fakultas Ushuluddin menobatkannya sebagai dosen berprestasi. Bapak empat anak ini menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SDN Munggut II Ngawi (1986), kemudian MTsN Paron Ngawi (1989), dan MAPK Jember (1992). Jenjang pendidikan tingginya ditempuh di Yogyakarta. Tahun 1992 ia masuk pada Jurusan Perbandingan Mazhab Fak. Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus 1997). Program S2nya di Jurusan Aqidah Filsafat ia selesaikan tahun 1999. Selepas S2, ia melanjutkan program S3 dan selesai tahun 2005 dengan konsentrasi Filsafat Hukum Islam di perguruan tinggi yang sama. Ia pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris di IKIP Yogyakarta yang saat itu bekerjasama dengan Charles Sturt University Australia (1997). Ia juga pernah memperdalam Bahasa Inggris di IALF Surabaya (2007). Pria penggemar lagu-lagu Alquran ini memiliki beberapa pengalaman internasional. Untuk mengasah kemampuan Bahasa Arab-nya, ia mengikuti kursus di Universitas Ummul Qura, Makkah (2008). Pada tahun 2010, ia mengikuti Research Training di Leipziq, German. Sementara pada tahun 2013, pria berkacamata ini menempuh program non-degree tentang Higher Education Management di Universitas Melbourne, Australia. Pada Oktober 2017, penggemar keanekaragaman hayati nusantara ini mengikuti training Quality Assurance di Kolkata India. Sebagai seorang penulis muda yang cukup produktif, tulisannya terus mengalir. Diantara karyanya adalah Pudarnya Pesona Ilmu Agama (Pustaka Pelajar, September 2007), Metode Studi Islam: Aplikasi Sosiologi Pengetahuan sebagai Cara Pandang (Pustaka Pelajar, Agustus 2008), Membumikan Hukum Langit (Tiara Wacana, Agustus 2008), dan Ilmu Ushul Fiqh di mata Filsafat Ilmu (Walisongo Press, Nopember 2009), Fiqh Madani (LKiS, 2010), Berwakaf Tak Harus Kaya (Walisongo Press, 2010)[]

Check Also

FIKIH DAN KEBIJAKAN PUBLIK DI INDONESIA (4) Oleh: Muhyar Fanani

Memasuki era reformasi, hubungan antara hukum Islam dengan hukum nasional merambah jalan baru. Gerakan Islam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *