Breaking News
Home / Umum / PERAN PROFETIK MUI (3) Oleh: Muhyar Fanani

PERAN PROFETIK MUI (3) Oleh: Muhyar Fanani

Ibarat umur manusia, sebagai organisasi keagamaan yang telah berusia  40 tahun (pada 2016), MUI sudah memasuki masa kedewasaannya. Organisasi para ulama yang berdiri 26 Juli 1975 itu kini tidak boleh lagi sekedar menjadi perpanjangan tangan penguasa. Ia dituntut untuk kembali mengenali jati dirinya yakni pengemban misi kenabian bagi umatnya. Tugas ini merupakan tugas fitrah MUI karena ia berbeda dengan organisasi kaum terpelajar lainnya. Kekhasan MUI terletak pada komitmen untuk menjalankan fungsi nabi pada saat tiada nabi lagi. Untuk itu bila hendak merevitalisasi kiprah MUI,  peran yang pernah dijalankan Nabi Muhammad dapat dijadikan standar acuan.

Peran nabi sesungguhnya bisa diperas menjadi tiga macam yakni penjaga integritas moral umat, pelindung si lemah (rohani maupun jasmani) dan pencerah umat. Tiga peran inilah yang dijalankan secara konsisten oleh nabi dalam masa bakti 23 tahun di Mekah dan Madinah. Para ahli telah mengkaji kesuksesan nabi dalam mengemban tugas sucinya. Kasus-kasus detail tentu amat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi Semenanjung Arabia abad ke-7 M dan tidak bisa disamakan dengan kasus-kasus Indonesia abad ke-21. Namun, nilai profetiknya dapat diambil pelajaran untuk menyelesaikan problematika umat saat ini.

 

Integritas moral

Salah satu problem mendasar bangsa ini adalah semakin terkikisnya moralitas  bangsa. Itulah makanya, seseorang tidak merasa bersalah bila dirinya mencuri kekayaan negara. Pembuat kebijakan tidak merasa bersalah bila kebijakannya tidak memihak kepentingan bangsa. Pemimpin tidak merasa bersalah bila selama menjadi pemimpin ia hanya memperjuangkan diri dan partainya serta abai pada cita-cita para pendiri bangsa. Ini semua masalah degradasi moral. Bila ini tidak dibendung, maka jangan harap Indonesia masih ada dalam 25 tahun ke depan. Ibarat kapal raksasa yang dimuati 250 juta orang, kapal Indonesia bisa tenggelam karena ulah kebanyakan penumpangnya yang secara sadar melubangi kapal sedikit demi sedikit. Apalagi, para awak yang mestinya melindungi kapal justru memberi contoh dalam melubangi kapal.

Sebagai bagian dari bangsa, MUI tidak bisa menutup mata atas permasalahan bangsa. Bangsa ini berdiri juga berkat perjuangan para ulama. Darah syuhada’ dan keringat ulama bercampur menjadi lem perekat bangsa. Maka ikut serta dalam mewujudkan cita-cita pendiri bangsa sudah semestinya diambil MUI. Bagaimana MUI melakukannya?

Sebagai lembaga pengemban otoritas moral, tugas tersebut bukan dilakukan dengan ikut hanyut dalam politik praktis melainkan menjadi penyeru moralitas bangsa. Demi terjaganya keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, MUI perlu memasang badan agar bangsa yang susah payah didirikan ini tidak digerogoti oleh orang-orang yang cacat moral. Gerakan moral MUI bisa dilakukan dengan dua cara, yakni penyadaran akan ancaman degradasi moral dan penanaman nilai moral.

Penyadaran masyarakat agar waspada pada ancaman perilaku cacat moral di negeri ini adalah langkah yang mendesak bagi MUI. Ciri-ciri orang yang sudah mengalami kebangkrutan moral adalah bila orang itu tidak merasa bersalah saat melakukan tindakan yang mencederai nurani dan akal sehat. MUI perlu mengampanyekan kesadaran bersama untuk mengenali tindakan yang bermoral dan tindakan yang tidak bermoral. Tujuannya tiada lain agar kesadaran kolektif tumbuh dan kepedulian bersama muncul tentang betapa ruginya bangsa ini bila semua orang merusak bangsanya dengan sadar maupun tidak sadar. Merusak bangsa adalah tindakan yang tidak bermoral.

Menjadi pelopor dalam upaya penanaman moralitas bangsa melalui pendidikan karakter adalah langkah kedua yang juga mendesak bagi MUI. Atas dasar menjaga keberlangsungan bangsa, MUI dapat bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam gerakan Indonesia bermoral. Bangsa ini sesungguhnya memiliki modal untuk menjadi bangsa yang bermoral, yakni keramahan dan kebaikan hati. Bila modal itu dipupuk dengan pendidikan moral yang berkualitas, bangsa ini akan menjadi bangsa besar yang bermoral. Al-Ghazali berpandangan bahwa cara paling efektif dalam internalisasi nilai moral adalah melalui pendidikan dan keteladanan. Internalisasi baru bisa dikatakan berhasil bila nilai moral itu telah menjadi sikap spontan, tanpa rekayasa, dan konstan dalam diri seseorang dalam setiap waktu. Bangsa ini memiliki bakat untuk menjadi bangsa yang bermoral. Namun proses pendidikan dan keteladanan dalam aspek moral yang lemah telah membuat bangsa ini tercerabut dari watak aslinya. MUI perlu mengambil langkah seribu dalam hal ini.

 

Pelindung si lemah

            Salah satu ciri paling menonjol dari sepak terjang Nabi Muhammad adalah perannya yang tidak pernah kendor dalam melindungi yang lemah. Dalam kerangka inilah, nabi bersikap kritis pada semua bentuk kezaliman di masanya. Kajian-kajian sirah nabi amat banyak mengurai keteladanan beliau dalam hal ini. Sebagai lembaga penerus tugas kenabian, sudah semestinya MUI mengambil peran ini baik rohani maupun jasmani. Tugas rohani mungkin sudah ditunaikan namun tugas jasmani masih perlu ditingkatkan. Mengingat dalam konteks negara bangsa modern, kebijakan publik amat menentukan nasib banyak orang, MUI perlu membentuk pusat kajian kebijakan publik untuk memastikan semua kebijakan di negeri ini benar-benar memihak pada yang lemah.

Disamping itu, aksi nyata membantu yang lemah juga bisa dilakukan MUI. Beberapa manusia telah melakukan tugas semacam ini. Atas nama kemanusiaan, YB Mangunwijaya membangun rumah orang-orang miskin di tepi Sungai Code. MUI bisa mengambil langkah serupa. Mungkin kendala dana akan  muncul. MUI bisa bekerjasama dengan para pengusaha dalam hal ini. Langkah seperti ditempuh Kick Andy dengan memfasilitasi bantuan dari mereka yang berlebih untuk disalurkan pada yang membutuhkan amat perlu dilakukan MUI. Sesungguhnya membantu yang lemah adalah naluri fitri manusia. Bila dijalankan dengan penuh ketulusan dan trust akan banyak nurani yang terpanggil untuk memberi.

Mencari orang susah di negeri ini tidaklah sulit. Bila berkomitmen membela yang lemah pastilah MUI tidak akan pernah kehabisan program. Memang kendala akan banyak muncul, seperti pendanaan, SDM, kontinuitas program, dan minimnya dukungan. Akan tetapi, bukankah kendala macam itu sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad? Bila jenis kendalanya sama, mengapa tidak mencontoh nabi dalam menghadapinya? Nabi seorang diri mampu menghadapi semua tantangan. MUI dengan banyak orang pastilah mampu meretas rintangan.

 

Pencerah umat   

            Seorang cendekiawan Syria, Muhammad Syahrur, pernah bertanya  bagaimana bisa terjadi umat yang sudah dibekali dengan kitab suci yang dijamin kebenarannya, tapi menjadi umat yang terbelakang? Apa yang salah? Bila Anda akan pergi ke Jakarta dengan peta di tangan, tentu akan lebih mudah sampai tujuan dibanding dengan teman Anda yang tanpa membawa peta. Kitab suci adalah peta kehidupan. Dengan Alquran, mestinya umat Islam adalah umat yang lebih maju bila dibanding dengan umat lain. Tapi, kenyataannya tidaklah demikian.

Menurut hitungan Esposito, jumlah umat Islam di bumi ini adalah seperlima penduduk bumi. Bila penduduk bumi mencapai 6 milyar, maka 1,2 milyar manusia bumi adalah muslim. Anehnya, mayoritas muslim dunia memiliki karakter yang relatif sama, yakni kurang berpendidikan, kurang terorganisir, berkinerja rendah, tidak profesional, dan oleh karena itu miskin. Bila ingin melihat potret umat Islam dunia, seseorang bisa melihat Indonesia, karena seperlima penduduk muslim dunia tinggal di negeri kepulauan ini. Studi menunjukkan bahwa Allah sesungguhnya telah memberikan berkah kepada bangsa-bangsa muslim karena kekayaan alam seperti minyak dan tanah subur diberikan kepada mereka. Namun, entah mengapa bangsa muslim tetap saja terbelakang.

Saya berkeyakinan bahwa agama adalah cahaya bagi para pemeluknya. Maka, bila cahaya itu redup pastilah orang-orang yang menggunakannya akan nunak-nunuk. Sungguh malang orang-orang seperti ini. Pada saat orang lain telah lari kencang, ia masih grayah-grayah cari jalan. Persoalannya adalah tidak mungkin Islam sebagai agama hanya memberikan cahaya redup. Bila itu terjadi, yang salah bukan Islamnya, tapi orang yang memeluk Islam. Sebagai lembaga penerus fungsi nabi, MUI mendapat mandat yang besar dalam menyajikan Islam yang mencerahkan. Sudahkah MUI mempromosikan Islam yang mencerahkan? Bagaimana menurut Anda?[] Muhyar Fanani, UIN Walisongo Semarang.     

 

About Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Muhyar Fanani adalah pengajar filsafat kesatuan ilmu pengetahuan dan hukum Islam di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang dan Program Pascasarjana UIN yang sama. Ia juga tercatat sebagai sekretaris MUI Propinsi Jawa Tengah. Pria kelahiran Ngawi, 14 Maret 1973 ini pernah menjabat sebagai Direktur Fakultas Ushuludin Program Khusus IAIN Walisongo (2005-2007), Wakil Direktur Pembinaan Keagamaan SMU Nurul Islami Semarang (2003-2005), Kepala Unit Penjaminan Mutu IAIN Walisongo (2010-2011), Kepala Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Walisongo (2011-2014) dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin (2015). Dekan Fisip UIN Walisongo ini pernah dinobatkan sebagai salah satu Penulis Disertasi Terbaik versi DEPAG RI pada tahun 2006. Penghargaan itu menjadikannya semakin bersemangat dalam menulis. Hari-harinya dihabiskan untuk menyusun kata dan mengukir makna. Gairahnya untuk terus menulis tidak pernah padam. Ia yakin bahwa tulisannya akan menjadi wakaf yang abadi. Pada tahun 2010, ia mendapat penghargaan sebagai peneliti terbaik IAIN Walisongo. Sementara pada tahun 2012, Fakultas Ushuluddin menobatkannya sebagai dosen berprestasi. Bapak empat anak ini menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SDN Munggut II Ngawi (1986), kemudian MTsN Paron Ngawi (1989), dan MAPK Jember (1992). Jenjang pendidikan tingginya ditempuh di Yogyakarta. Tahun 1992 ia masuk pada Jurusan Perbandingan Mazhab Fak. Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus 1997). Program S2nya di Jurusan Aqidah Filsafat ia selesaikan tahun 1999. Selepas S2, ia melanjutkan program S3 dan selesai tahun 2005 dengan konsentrasi Filsafat Hukum Islam di perguruan tinggi yang sama. Ia pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris di IKIP Yogyakarta yang saat itu bekerjasama dengan Charles Sturt University Australia (1997). Ia juga pernah memperdalam Bahasa Inggris di IALF Surabaya (2007). Pria penggemar lagu-lagu Alquran ini memiliki beberapa pengalaman internasional. Untuk mengasah kemampuan Bahasa Arab-nya, ia mengikuti kursus di Universitas Ummul Qura, Makkah (2008). Pada tahun 2010, ia mengikuti Research Training di Leipziq, German. Sementara pada tahun 2013, pria berkacamata ini menempuh program non-degree tentang Higher Education Management di Universitas Melbourne, Australia. Pada Oktober 2017, penggemar keanekaragaman hayati nusantara ini mengikuti training Quality Assurance di Kolkata India. Sebagai seorang penulis muda yang cukup produktif, tulisannya terus mengalir. Diantara karyanya adalah Pudarnya Pesona Ilmu Agama (Pustaka Pelajar, September 2007), Metode Studi Islam: Aplikasi Sosiologi Pengetahuan sebagai Cara Pandang (Pustaka Pelajar, Agustus 2008), Membumikan Hukum Langit (Tiara Wacana, Agustus 2008), dan Ilmu Ushul Fiqh di mata Filsafat Ilmu (Walisongo Press, Nopember 2009), Fiqh Madani (LKiS, 2010), Berwakaf Tak Harus Kaya (Walisongo Press, 2010)[]

Check Also

Refleksi 20 Tahun Reformasi Prespektif Sosial Budaya

Refleksi 20 Tahun Reformasi Prespektif Sosial Budaya Studium General FISIP UIN Walisongo Semarang     …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *