Home / Umum / Refleksi 20 Tahun Reformasi Prespektif Sosial Budaya

Refleksi 20 Tahun Reformasi Prespektif Sosial Budaya

Refleksi 20 Tahun Reformasi Prespektif Sosial Budaya

Studium General FISIP UIN Walisongo Semarang

 

 

Bertema Refleksi 20 Tahun Reformasi Perspektif Sosial Budaya, FISIP UIN Walisongo menyelenggarakan studim general pada tanggal 9 Mei 2018. Prof. Dr. Irwan Abdullah sebagai pemateri tunggal memaparkan tema tersebut menjadi pembahasan penting yang seharusnya ‘dikembalikan kerumahnya’ yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pernyataan tersebut dilatarbelakangi adanya asumsi bahwa fungsi dari ilmu sosial dan budaya adalah transformasional dalam kerangka mengubah kehidupan kebangsaan yang lebih baik. Oleh karena itu  seluruh civitas akademik FISIP termasuk mahasiswa harus memilki sikap kritis untuk melahirkan perubahan dalam rangka merespon kondisi Indonesia saat ini. Mahasiswa FISIP khususnya harus menjadi change maker dalam kondisi ini, tentu saja bekal akademik menjadi modal utama dalam mengaktualisasikan peran tersebut.

Jika boleh direpresentasikan dengan satu pernyataan, Prof. Dr. Irwan Abdullah memilih menyatakan Indonesia sedang tidak berdaulat saat ini dengan mempertimbangkan berbagai macam fenomena sosial budaya dan politik yang tengah terjadi. Oleh karena itu, refleksi menjadi agenda penting sebelum melakukan upaya transformasional. Point refleksi pertama dari 20 tahun reformasi merujuk pada persoalan delegitimasi negara. Pergeseran dari pola ‘strong state’ menjadi ‘strong society’ – ‘people centered state’ seringkali dianggap sebagai pola yang menempatkan masyarakat dalam posisi tertinggi tanpa mempertimbangkan rules yang telah ada. Sehingga yang terjadi justru miss-strong society karena seringkali berbagai gerakan dan suara masyarakat tidak berlandaskan rasionalitas.

Point refleksi kedua dari 20 tahun reformasi adalah demokrasi yang seharusnya menjadi tujuan utama dari reformasi. Prof. Dr. Irwan Abdullah menyampaikan keunikan dari demokrasi Indonesia yang justru jatuh dari atas ke ‘tanah’ dan ‘jalan’. Pernyataan tersebut merujuk pada fenomena demokrasi yang tengah menjadi sorotan di Indonesia belakangan ini. Pasalnya berbagai macam persoalan dan keputusan justru diselesaikan dengan berdasar pada suara terbanyak yang belum tentu mempertimbangkan rasionalitas dan birokrasi yang ada. Terlebih praktek berdemokrasi kini kerap dibungkus dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Krusialnya dunia maya dan media sosial bagi sebagian besar masyarakat Indonesia belakangan ini juga menjadi salah satu faktor yang turut membawa praktek demokrasi dalam posisi yang kurang ideal. Pengguna sosial media seringkali latah dalam membagi berita dan informasi terlebih jika berita dan informasi tersebut mengarah pada isu-isu sosial dan politik. Persoalan kebenaran atas berita dan informasi yang dibagikan tidak menjadi prioritas utama, justru yang menjadi prioritas adalah bagaimana membuat individu dan masyarakat terprovokasi dengan berita dan informasi yang diberikan.

Intermediate structure yang dikonsepkan Peter Berger sebagai struktur antara (yang menghubungkan kelas atas/elit dengan kelas bawah/masyarakat biasa) dalam praktek berdemokrasi ideal justru tidak dihiraukan keberadaan dan perannya. Semestinya intermediate structure atau struktur antara dapat menjadi ruang bagi para akademisi untuk berkontribusi dalam praktek demokrasi sehingga dapat tercipta suasana demokrasi yang ideal.

  Refleksi atas 20 tahun reformasi dengan perspektif sosial budaya juga dapat ditinjau melalui 4 indikator yang telah dirumuskan oleh Prof. Dr. Irwan Abdullah. Pertama yakni persoalan teknologisasi disemua ranah kehidupan manusia. Penggunaan teknologi dalam keseharian masyarakat seringkali menghilangkan representasi diri dari individu itu sendiri. Selain itu teknologi juga mereduksi relasi-relasi sosial yang seharusnya terbangun dalam kehidupan bermasyarakat. Mobilitas menjadi indikator kedua dalam konteks refleksi atas 20 tahun reformasi. Menurut Appadurai ruang yang terbentuk merujuk pada konsep borderless society dimana masyarakat terorientasi ke global culture. Namun praktek yang terjadi di masyarakat Indonesia justru sebaliknya, kecenderungan menegaskan batas melalui simbol-simbol tertentu justru menjadi fenomena yang kerap ditemui dalam keseharian. Penegasan simbol tersebut lantas menyempitkan batas dan identitas pada masyarakat Indonesia.

Indikator ketiga adalah demokrasi yang perlu direfleksikan ulang, karena kekhasan demokrasi di Indonesia yang justru jatuh dari atas ke ‘tanah’ dan ‘jalanan’ menurut pernyataan Prof. Dr. Irwan Abdullah. Belakangan ini produksi pengetahuan dilakukan oleh siapa saja tanpa konfirmasi dan koreksi. Media merupakan indikator refleksi yang keempat dimana media seringkali menciptakan wacana sendiri. Aksesibilitasnya yang mudah dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat menjadi media justru dipakai sebagai referensi utama. Sepertihalnya teknologi, media juga memerankan peran dan fungsi krusial dalam keseharian masyarakat melalui proses mediatisasi. Bahkan telah terjadi mediatisasi agama dimana agama mengalami depersonalisasi dan kodifikasi. Berbagai hasil refleksi tersebut yang seharusnya diperhatikan dan dijadikan sebagai moment untuk melakukan upaya transformasional, khususnya bagi seluruh civitas akademika dan mahasiswa FISIP secara keseluruhan.

 

About Admin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Check Also

RIP FISIP UIN WALISONGO

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *