FISIP UIN Walisongo Adakan Sekolah Riset di Bandungan

FISIP Online- Semarang, FISIP UIN Walisongo bekerjasama Dengan Satu Kata dan Prodi Sosiologi dan Antropologi FIS UNNES mengadakan Sekolah Riset yang dihelat pada 24-25 Januari 2020 di Dusun Gaton, Desa Duren, Kec. Bandungan. Sekolah riset yang bertemakan Semua Orang Bisa Meneliti ini diikuti oleh 24 orang yang berlatar belakang akademis dari dosen muda, guru, dan mahasiswa. Tujuan dari sekolah ini dimaksudkan untuk meyakinkan kepada masyarakat bahwa riset itu mudah dan bisa dilakukan oleh semua orang seperti tema yang telah diusung.

Para peserta dibimbing oleh para mentor dari Satu Kata  yang gawangi oleh Amin Tohari. Satu Katu Kata merupakan perkumpulan para peneliti dari berbagai backround keilmuan, yang berskretariat di Yogyakarta. Di tangan para mentor peserta dibimbimbing untuk belajar meneliti dengan terjun langsung ke masyarakat yang sebelumnya sudah dibekali dengan teori. Beberapa materi yang diberikan diantaranya Analisis Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, Antropologi dan Budaya serta seni bertanya yang efektif dan sopan.

Dekan FISIP, Dr. Misbah Zulfa Elizabeth yang dalam kesempatan itu mengisi materi tentang Budaya ,Perempuan, dan Antropologi mengulas mengenai budaya, gender dalam realitas kehidupan dan tentang etnografi sebagai metode penelitian. Elizabeth menyampaikan bahwa gender selalu diidentikan  persoalan perempuan padahal laki-laki juga ada di dalamnya. Di mana ada campur tangan budaya yang mengubah peran dan fungsi perumpuan dan laki-laki, maka itu wilayah gender, Elizabeth menegaskan. Selain itu peserta juga mendapatkan paparan tentang Desa Duren dari bu Lurah, Trismiwati secara langsung. Trimiwati berbicara penduduk, pertanian hingga tempat hiburan. Gambaran singkat tentang desa Duren maksudkan supaya peserta memiliki gambaran sebelum diterjunkan ke lapangan untuk mencari dan menggali data dari masyarakat secara langsung.

Suasana sejuk nan asri semakin menambah semangat peserta untuk terjun langsung ke desa dan berinteraksi dengan masyarakat di hari ke 2. Ketika penerjunan, peserta dibagi 4 kelompok tentang Air, pertanian, kesenian dan kos-kosan. Peserta diberi waktu maksimal 5 jam untuk menghimpun informasi dari informan sesuai dengan konsep yang sudah didiskusikan di dalam satu kelompok. Selama menghimpun informasi peserta mendapatkan banyak pengalaman, ada yang mendapatkan informan enggan menjawab pertanyaan, ada yang takut diwawancarai dan yang bertemu dengan informan yang tidak paham dengan pertanyaan yang diajukan peserta serta masih banyak pengalaman lainnya yang asyik dan menyenangkan. Informasi yang sudah didapat didiskusikan di dalam kelompok dan kemudian  dipaparkan dalam forum untuk dimintakan kritik dan masukan dari kelompok lain.

Banyak manfaat yang bisa diambil dari diadakannya sekolah riset ini, karena peserta bisa merasakan atmosfir masyarakat secara langsung. Riset atau penelitian adalah seni yang membutuhkan ketelatenan, kesabaran dan keuletan serta jam terbang yang tinggi kata Amin Tohari dalam acara penutupan sekolah riset pada Sabtu malam. Tohari juga mengatakan bahwa ada banyak hal yang bisa diteliti karena semua sudah tergelar di sekitar kita asalkan kita memiliki kepekaan dan apa yang dilakukan selama dua hari ini merupakan bagian dari proses kecil dari pengalaman meneliti.

Posted in Agenda Kegiatan, Umum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *