COVID-19, KATA DAN PERUBAHAN BUDAYA

Dr. Hj. Misbah Zulfa Elizabeth, M.Hum

 

Tulisan ini merupakan hasil sebuah kajian awal terhadap realitas budaya yang berkait dengan munculnya pandemic Covid-19. Pelacakan pustaka menunjukkan bahwa meskipun pandemic ini merupakan sudden global disaster (World Health Organization, 2020) namun para ahli  dengan cepat sekali merespon fenomena kesehatan yang mengejutkan dunia itu. Kajian yang massive dilakukan oleh para ahli pada periode awal  terjadinya pandemic ini pada umum memfokuskan kajiannya pada bidang medis. Namun demikian bukan berarti tema yang bersifat non medis belum dibahas. Untuk konteks Indonesia setidaknya kajian yang dikualifikasikan ke dalam tema non medis meliputi tema hukum (Telaumbanua, 2020), pendidikan (Abidah, 2020; Mailizar et. Al., 2020), dan gender (Wen Ham et al., 2020). Tampaknya tema-tema tersebut di atas merupakan tema yang dirasakan langsung pada permulaan terjadinya pandemic sehingga seketika menarik perhatian para ahli untuk mengkajinya.

Tema yang akan dibahas dalam tulisan ini berkait dengan perubahan perilaku masyarakat akibat munculnya pandemic Covid-19. Untuk mengkaji fenomena ini penulis menggunakan kerangka Spradley (2006) yang menyatakan bahwa culture is the learned, shared knowledge that people use to generate behavior and interpret experience. Berdasar konsep ini kebudayaan asalnya adalah pengetahuan, dan  pengetahuan ini terekspresi dari bahasa. Bahasa dalam bentuk kata atau diksi yang muncul dan berkembang selama masa pandemic Covid-19 (Kompas.com, 2020) antara lain adalah lockdown, social distancing, isolasi, karantina, work from home (WFH), masker, hand sanitizer, fasyankers, screening pasien, dan hazmat suite.

Sebagai sebuah proses budaya kata-kata di atas belum terinternalisir secara individual ketika Covid-19 belum menyebar. Namun demikian ketika pada bulan Maret dinyatakan bahwa Covid-19 sudah menyebar ke Indonesia maka istilah-istilah itu dienkulturasikan kepada seluruh masyarakat. Tampak dalam proses belajar budaya baru itu orang melakukan trial and error karena pengetahuan itu adalah pengetahuan baru. Sebagai contoh ketika berbagai lembaga, termasuk kampus mengumumkan lockdown, dan dengan penanda yang jelas, yaitu seluruh gerbang masuk kampus ditutup dan dengan penjagaan ketat, namun masih ada yang bertanya untuk kemungkinan masuk oleh berbagai keperluan.

Contoh lain adalah pemakaian masker yang dalam pengetahuan baru mengenai Covid-19 memang harus dikenakan karena untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang media penyebarannya adalah melalui droplet. Kata masker dan droplet menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat dan diseminasi informasi mengenai berbagai kata yang berkait dengan Covid-19 dilakukan secara massif melalui berbagai media yang ada, baik media massa maupun media social. Ketersediaan teknologi internet memungkinkan mudah tersebarnya informasi tersebut.

Terdiseminasinya pengetahuan memunculkan perubahan prilaku. Karena informasi mengenai perkembangan persebaran Covid-19 ini terus di update dan didiseminasikan mau tidak mau masyarakat mengubah prilaku kesehariannya. Masyarakat mengurangi aktifitas di luar rumah dan mereka dengan nyaman mengatakan bahwa meraka sedang work from home (WFH), sebuah kata yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Dalam konsep sebelumnya bekerja adalah di luar rumah. Apabila mereka harus keluar rumah, mereka harus memakai masker, membawa serta hand sanitizer dan mereka  melakukan social distancing ketika harus bertemu dengan orang lain. Ketika mereka harus bepergian ke wilayah lain mereka harus mengisolasi diri terlebih dahulu sampai titik aman menurut protocol kesehatan, baru diperbolehkan berinteraksi dengan anggota keluarganya

Perilaku seperti itu terus menerus direproduksi melalui jaringan sistem pengetahuan (knowledge system networking) yang ada sehingga semakin menguatkan pengetahuan mereka. Masyarakat mengembangkan interpretasi dari pengetahuan mereka tentang kata yang terdiseminasi dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 untuk membentuk prilaku baru. Proses panjang dalam enkulturasi budaya kini dapat disaksikan telah membentuk budaya baru dalam berprilaku. Masyarakat semakin terbiasa mengenakan masker, membawa hand sanitizer apabila keluar rumah, menghindari kerumunan serta menjaga jarak.

Interpretasi terhadap pengetahuan itu juga dikuatkan dengan social and cultural punishment, hukuman sosial dan budaya. Sebagai contoh razia masker oleh petugas, atau teguran langsung dari anggota masyarakat jika menemui anggota masyarakat lain tidak mengenakan masker. Bahkan muncul cultural wordings yang diungkap ketika anggota masyarakat menemukan anggota masyarakat lain tidak mengenakan masker. “Mas aku ijih pingin urip je” , “Wahh.. kebal po piye” misalnya merupakan ungkapan hukuman dan “kemarahan” akibat adanya anggota masyarakat lain yang tidak patuh terhadap tatanan budaya baru “mengenakan masker”

Kerangka Spradley mengenai kebudayaan dapat dikembangkan untuk digunakan dalam memahami bagaimana perubahan perilaku terbentuk. Sistem pengetahuan adalah salah satu yang memungkinkan terjadinya perubahan budaya. Budaya yang ekspresinya berupa patterned behavior  (perilaku terpola) dapat dibentuk melalui penanaman pengetahuan melalui kata, dan pemaknaan kata.

 

Daftar Pustaka

Abidah, Azmil, 2020. “The Impact of Covid-19 to Indonesian Education and Its Relation to the Philosophy of ‘Merdeka Belajar’”, Spouse 1 (1) April 2020 pp.38-49

Mailizar, Almanthari, A., Maulina, S., & Bruce, S. (2020). Secondary School Mathematics Teachers’ Views on E-learning Implementation Barriers during the COVID-19 Pandemic: The Case of Indonesia. Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education, 16(7).

Spradley, James,  2006. Metode Etnografi, terj. Misbah Zulfa Elizabeth, Yogyakarta, Tiara Wacana.

Telaumbanua, D. 2020. “Urgensi Pembentukan Aturan Terkait Pencegahan Covid-19 di Indonesia” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, Dan Agama, 12(1), 59-70.

Wen Ham, Clare,  Julia Smith, and Resemary Morgan 2020. “Covid-19: The Gendered Impact of the Outbreak” The Lancet 395 (10227) pp 846-849

World Health Organization, 2020. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report  30 March 2020– 70

World Health Organization, 2020Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report  17 April– 70

Posted in Kolom Dekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *