Home / Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Muhyar Fanani adalah pengajar filsafat kesatuan ilmu pengetahuan dan hukum Islam di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang dan Program Pascasarjana UIN yang sama. Ia juga tercatat sebagai sekretaris MUI Propinsi Jawa Tengah. Pria kelahiran Ngawi, 14 Maret 1973 ini pernah menjabat sebagai Direktur Fakultas Ushuludin Program Khusus IAIN Walisongo (2005-2007), Wakil Direktur Pembinaan Keagamaan SMU Nurul Islami Semarang (2003-2005), Kepala Unit Penjaminan Mutu IAIN Walisongo (2010-2011), Kepala Pusat Pengembangan Bahasa IAIN Walisongo (2011-2014) dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ushuluddin (2015). Dekan Fisip UIN Walisongo ini pernah dinobatkan sebagai salah satu Penulis Disertasi Terbaik versi DEPAG RI pada tahun 2006. Penghargaan itu menjadikannya semakin bersemangat dalam menulis. Hari-harinya dihabiskan untuk menyusun kata dan mengukir makna. Gairahnya untuk terus menulis tidak pernah padam. Ia yakin bahwa tulisannya akan menjadi wakaf yang abadi. Pada tahun 2010, ia mendapat penghargaan sebagai peneliti terbaik IAIN Walisongo. Sementara pada tahun 2012, Fakultas Ushuluddin menobatkannya sebagai dosen berprestasi. Bapak empat anak ini menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di SDN Munggut II Ngawi (1986), kemudian MTsN Paron Ngawi (1989), dan MAPK Jember (1992). Jenjang pendidikan tingginya ditempuh di Yogyakarta. Tahun 1992 ia masuk pada Jurusan Perbandingan Mazhab Fak. Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (lulus 1997). Program S2nya di Jurusan Aqidah Filsafat ia selesaikan tahun 1999. Selepas S2, ia melanjutkan program S3 dan selesai tahun 2005 dengan konsentrasi Filsafat Hukum Islam di perguruan tinggi yang sama. Ia pernah mengikuti kursus Bahasa Inggris di IKIP Yogyakarta yang saat itu bekerjasama dengan Charles Sturt University Australia (1997). Ia juga pernah memperdalam Bahasa Inggris di IALF Surabaya (2007). Pria penggemar lagu-lagu Alquran ini memiliki beberapa pengalaman internasional. Untuk mengasah kemampuan Bahasa Arab-nya, ia mengikuti kursus di Universitas Ummul Qura, Makkah (2008). Pada tahun 2010, ia mengikuti Research Training di Leipziq, German. Sementara pada tahun 2013, pria berkacamata ini menempuh program non-degree tentang Higher Education Management di Universitas Melbourne, Australia. Pada Oktober 2017, penggemar keanekaragaman hayati nusantara ini mengikuti training Quality Assurance di Kolkata India. Sebagai seorang penulis muda yang cukup produktif, tulisannya terus mengalir. Diantara karyanya adalah Pudarnya Pesona Ilmu Agama (Pustaka Pelajar, September 2007), Metode Studi Islam: Aplikasi Sosiologi Pengetahuan sebagai Cara Pandang (Pustaka Pelajar, Agustus 2008), Membumikan Hukum Langit (Tiara Wacana, Agustus 2008), dan Ilmu Ushul Fiqh di mata Filsafat Ilmu (Walisongo Press, Nopember 2009), Fiqh Madani (LKiS, 2010), Berwakaf Tak Harus Kaya (Walisongo Press, 2010)[]

11. NEGERI YANG DIBERKATI

  NEGERI YANG DIBERKATI Oleh: Muhyar Fanani    Perjalanan bangsa ini dipenuhi dengan keberuntungan. Banyak yang tidak masuk akal tapi karena beruntung, jadilah itu kenyataan. Mengusir Belanda yang digdaya dengan senjata apa adanya adalah tidak masuk akal. Bambu runcing membungkam meriam adalah tidak masuk akal. Melawan tentara NICA yang mendarat di Surabaya dengan persiapan dan persenjataan yang alakadarnya sungguh tidak …

Read More »

10. HUKUM ISLAM, PANCASILA, DAN NALAR PUBLIK

        HUKUM ISLAM, PANCASILA, DAN NALAR PUBLIK Oleh: Muhyar Fanani     Sebagian masyarakat muslim Indonesia masih mendambakan dijalankannya hukum syariat di Indonesia. Gerakan mereka dikenal dengan teori makan bubur panas. Memakan bubur panas pastilah dari pinggir. Menerapkan syariat Islam haruslah demikian. Daerah-daerah pinggir mengeluarkan perda-perda syariat. Lambat-laun, daerah tengah nanti akan mengikuti. Dalam hal ini terdapat …

Read More »

9. KRISIS DEMOKRASI PANCASILA

KRISIS DEMOKRASI PANCASILA Oleh: Muhyar Fanani   Hiruk pikuk di media tentang SN dan tiang listrik beberapa waktu lalu sungguh membuat bangsa ini tertawa. Banyak orang geleng-geleng kepala. Tak kurang Wakil Presiden ikut bicara. Menurutnya kasus SN merupakan contoh buruk seorang pejabat negara dalam hal kepatuhan terhadap hukum. Sangatlah wajar bila rakyat marah. Sebagian rakyat mengungkapkan kemarahannya dengan cara meledek. …

Read More »

TIPOLOGI EKSTREMISME ISLAM DI INDONESIA (8) Oleh: Muhyar Fanani

Pendahuluan   Walaupun Islam memerintahkan pemeluknya untuk menjalin kerukunan baik dengan sesama muslim maupun dengan pemeluk agama lain (an-Nisa’: 128, al-Hujurat: 9,10), terdapat beberapa tokoh muslim yang menyerukan permusuhan. Anehnya, seruan itu diyakini sebagai pembelaan atas Islam itu sendiri. Terdapat logika yang tidak bertemu antara seruan hidup rukun dan seruan untuk bermusuhan. Seruan hidup rukun merupakan jiwa ajaran yang didukung …

Read More »

MAL PRAKTIK ISLAM (7) Oleh: Muhyar Fanani

Adanya beberapa Warga Negara Indonesia (WNI) yang tertarik bergabung ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sungguh memprihatinkan. Secara ideologi, tindakan itu sulit dibenarkan mengingat ideologi teror bukanlah ideologi yang disinari inti Islam. Secara politik, upaya itu tidaklah menguntungkan. Mereka dapat dicabut kewarganegaraannya sementara ISIS belum tentu mampu memberikan kewarganegaraan baru. Motif ekonomi yang bisa jadi menjadi pendorong juga sulit …

Read More »

HUKUMAN MATI BAGI KORUPTOR (6) Oleh: Muhyar Fanani

Warga negara yang sehat akal budinya, pastilah malu memiliki negara yang dikenal korup. Apalagi, mayoritas penduduknya muslim. Tak hanya warganya, Presidennya pun malu. Saat memberikan sambutan pada Rakernas MUI 2004, Presiden SBY menyatakan “Sungguh malu kita sebagai bangsa penganut agama Islam terbesar di dunia, dianggap sebagai bangsa yang korup, seolah-olah agama Islam yang menyuruh umatnya berbuat yang makruf dan menjauhi …

Read More »

KITA BUKAN BANGSA AYAM SAYUR (5) Oleh: Muhyar Fanani

Suatu saat nanti Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani. Kualitas bangsa diakui. Anak-anak negeri tak lagi menjadi kuli. Mereka cerdik berinovasi dan aktif menghasilkan sesuatu yang bergengsi. Seluruh warga hidup tenang dan nyaman. Yang kuat melindungi yang lemah. Yang miskin tak terhinakan. Kekayaan darat, laut, dan udara benar-benar dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Negara menguasai sektor-sektor yang menjadi hajat hidup orang …

Read More »

FIKIH DAN KEBIJAKAN PUBLIK DI INDONESIA (4) Oleh: Muhyar Fanani

Memasuki era reformasi, hubungan antara hukum Islam dengan hukum nasional merambah jalan baru. Gerakan Islam Syariat bermunculan. Perda-perda bernuansa syariat juga bertebaran. Inikah arah yang ideal bagi muslim Indonesia untuk menjadi muslim yang baik sekaligus warga Indonesia yang baik? Pertanyaan ini perlu perenungan yang mendalam dengan memanfaatkan dialektika antara teks dan konteks, antara statis (ats-tsâbit) dan dinamis (al-mutahawwil), antara originalitas …

Read More »

PERAN PROFETIK MUI (3) Oleh: Muhyar Fanani

Ibarat umur manusia, sebagai organisasi keagamaan yang telah berusia  40 tahun (pada 2016), MUI sudah memasuki masa kedewasaannya. Organisasi para ulama yang berdiri 26 Juli 1975 itu kini tidak boleh lagi sekedar menjadi perpanjangan tangan penguasa. Ia dituntut untuk kembali mengenali jati dirinya yakni pengemban misi kenabian bagi umatnya. Tugas ini merupakan tugas fitrah MUI karena ia berbeda dengan organisasi …

Read More »

MUI DAN MEA Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag.

Salah satu permasalahan terberat NKRI adalah sedikitnya lapangan kerja. Mengapa tanah yang luas dan subur bisa miskin lapangan kerja? Jawaban sederhananya adalah karena rendahnya jiwa entrepreneurship. Mengapa jiwa entrepreneurship kita rendah? Karena kita kurang memaksimalkan akal kita untuk mengolah kenikmatan tanah air kita. Kedangkalan menggunakan akal ini berimplikasi domino. Dampak dari hal ini adalah banyaknya lahan usaha yang tidak terurus. …

Read More »