Semarang — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Walisongo Semarang kembali memperkuat komitmennya dalam membangun lingkungan akademik yang aman dan bebas dari kekerasan seksual. Komitmen tersebut ditegaskan melalui perpanjangan kerja sama antara FISIP UIN Walisongo dan Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) yang dilaksanakan pada Rabu (16/9/2026).

Kerja sama yang telah terjalin cukup lama tersebut selama ini telah diwujudkan melalui berbagai kegiatan, mulai dari magang mahasiswa, diskusi, seminar, hingga kegiatan yang berkaitan dengan isu keadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan. Perpanjangan kerja sama diharapkan dapat memperluas ruang kolaborasi kedua lembaga, khususnya dalam pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.

Dekan FISIP UIN Walisongo, Prof. Dr. Moh. Fauzi, M.Ag., mengatakan bahwa keberlanjutan kerja sama dengan LRC-KJHAM memiliki arti penting bagi pengembangan pendidikan dan penguatan karakter kelembagaan FISIP.

“Kerja sama ini sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Banyak mahasiswa FISIP yang melaksanakan magang di sana, selain juga kegiatan-kegiatan lain seperti diskusi dan seminar yang berkaitan dengan kekerasan gender,” ungkap Prof. Fauzi.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa secara langsung dalam kegiatan lembaga masyarakat sipil memberikan pengalaman penting di luar ruang kelas. Mahasiswa dapat melihat bagaimana pengetahuan akademik diterapkan untuk memahami sekaligus merespons berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat.

Prof. Fauzi juga menilai isu kekerasan seksual menjadi salah satu ruang penting yang dapat terus dikembangkan melalui kerja sama tersebut. Bagi FISIP, perhatian terhadap persoalan kekerasan seksual tidak hanya berkaitan dengan penanganan kasus, tetapi juga dengan upaya membangun budaya akademik yang mendorong pencegahan dan menciptakan ruang belajar yang aman.

“Dengan kerja sama ini semakin menguatkan jika FISIP memang konsen terhadap kasus-kasus kekerasan seksual. Harapannya, FISIP bisa menjadi percontohan fakultas yang nir kekerasan seksual,” tegasnya.

Mempertemukan Kekuatan Akademik dan Pengalaman NGO

Sementara itu, Direktur LRC-KJHAM, Witi Muntari, M.Pd., menyampaikan bahwa kolaborasi dengan FISIP UIN Walisongo dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan mahasiswa pada peran organisasi masyarakat sipil atau Non-Governmental Organization (NGO) dalam kehidupan sosial.

Menurut Witi, perguruan tinggi dan NGO memiliki pengalaman serta kekuatan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi. Perguruan tinggi memiliki kekuatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pendidikan, sementara NGO memiliki pengalaman dalam bekerja secara langsung bersama masyarakat dan menangani berbagai persoalan sosial.

“Kolaborasi antara FISIP dan LRC-KJHAM bisa semakin mengenalkan mahasiswa dengan peran-peran NGO. Ada saling mengisi ruang kosong keilmuan untuk penguatan peran pengabdian dan keilmuan,” tutur Witi.

Kolaborasi tersebut, lanjutnya, dapat menjadi ruang pembelajaran bersama. Mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami persoalan sosial secara lebih konkret, sedangkan lembaga masyarakat sipil dapat memperoleh dukungan pengembangan pengetahuan dan kajian akademik dalam menjalankan program-programnya.

Perkuat Tridharma Perguruan Tinggi

Perpanjangan kerja sama FISIP UIN Walisongo dengan LRC-KJHAM diarahkan pada penguatan Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, kerja sama dapat dikembangkan melalui program magang mahasiswa, kuliah tamu, seminar, diskusi, praktisi mengajar, serta pembelajaran berbasis pengalaman. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempertemukan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan realitas sosial di lapangan.

Dalam bidang penelitian, kedua lembaga memiliki peluang untuk mengembangkan kajian kolaboratif mengenai keadilan gender, kekerasan seksual, hak asasi manusia, perlindungan kelompok rentan, kebijakan publik, serta berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat.

Sementara dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, kerja sama dapat diarahkan pada kegiatan edukasi, pemberdayaan, pendampingan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta penguatan kesadaran mengenai hak-hak warga negara dan perlindungan dari berbagai bentuk kekerasan.

Dengan demikian, perpanjangan kerja sama ini tidak sekadar memperpanjang hubungan kelembagaan, tetapi juga menjadi upaya membangun ekosistem kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat sipil. Pengetahuan akademik, pengalaman lapangan, serta jejaring sosial kedua lembaga dapat dipertemukan untuk menghasilkan kegiatan yang memiliki manfaat lebih luas.

Bagi FISIP UIN Walisongo, kerja sama tersebut sekaligus mempertegas arah pengembangan fakultas yang tidak hanya berorientasi pada penguatan kompetensi akademik mahasiswa, tetapi juga pada pembentukan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan responsif terhadap persoalan sosial.

Ke depan, sinergi FISIP UIN Walisongo dan LRC-KJHAM diharapkan terus berkembang melalui berbagai program bersama yang memperkuat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus mendukung terwujudnya kampus dan fakultas yang semakin sadar, responsif, dan bebas dari kekerasan seksual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *